Shabila sejak pagi telah sibuk dengan segala printilan jualan. Mulai dari menu utama yang adalah sando, mile crepes dan beberapa menu baru seperti cookies, croffle dan donat dengan berbagai varian rasa.

Erlangga, Ikhsan, Rama, Adelia, hingga Ibu ikut membantu, walau Ibu setengah hati dan lebih banyak membantu dalam pembuatan donat sedari malam, paling tidak sang Ibu ikut andil dalam pembukaan toko rumahan milik Shabila hari ini.

“Itu nyokap lo.. Ikut bantu?” tanya Ikhsan pada Rama yang sibuk menata krat minuman bersoda yang Erlangga beli lalu mereka alihkan fungsi jadi meja dan bangku kecil untuk para pelanggan duduk.

“Mbak Abil bisa bikin kue gitu kan asalnya diajarin nyokap,” jawab Rama tanpa menatap Ikhsan, sibuk mencoba kursi hasil karyanya.

Ikhsan membulatkan bibirnya sambil melirik Ibu yang seakan tak mengiraukan kesibukan di luar rumah. Setelah membantu mengeluarkan setumpuk donat dan meletakkan di meja, Ibu kembali masuk dan sibuk dengan jahitannya.

Ketika Ikhsan dan Rama ribut dengan tatanan kursi, Erlangga dan Adelia sibuk menata sando di dalam chiller kecil yang mereka letakkan di meja bersandingan dengan etalase kayu buatan Erlangga.

“Sabeum kalo nyusun di sesuaiin rasa nya ajaa.. Ini buah sama buah, oreo sama oreo jangan asal naruhnyaaa..” protes Adelia saat Erlangga meletakkan asal sando ke dalam kulkas.

“Emangnya ngaruh? Kan sama aja?” goda Erlangga, sebenarnya ia tau, hanya saja laki-laki itu sengaja meletakkan asal agar Adelia bisa membantu. Karena sejak pagi, bocah kecil itu terlalu bersamangat dan terus bertanya apa yang bisa ia bantu.

“Beda tau Sabeum, kalo kata Mbak biar estetik!” kata Adelia sok tau, Erlangga tertawa.

“Kenapa sih Adel masih manggil Sabeum, Sabeum? Kan aku udah nggak jadi Sabeumnya Adel lagi?” tanya Erlangga setelah mereka kembali sibuk menata sando,