https://open.spotify.com/track/6wqmvAct0xhX6plr6wv5Jp?si=gBJ3SQkQS_mS0AI05j42wA&context=spotify%3Aplaylist%3A0k967xzZ371hCpI0o9y6pF

Nggak ada yang bisa Erlangga jawab selain kata sama-sama di balasan chat terakhir Shabila. Karena, Erlangga harus lebih bersabar untuk mengutarakan maksud dan keinginannya kepada Shabila.

Erlangga terlalu terburu-buru, Erlangga sadar bahwa tak mudah untuk Shabila membuka diri kepada orang baru, sehingga Erlangga mengubah rencananya, untuk berjalan mengikuti langkah yang dibuat oleh Shabila. Jadi, ia putuskan hanya diam sambil tetap memperhatikan gerak-gerik si puan.

Seperti sabtu siang menjelang sore ini, bengkel hanya beroperasi setengah hari ketika weekend. Di jam tiga sore semua orang telah meninggalkan parkiran, tetapi Erlangga malah memindahkan motornya di halaman luas area loading, meletakkan motornya di sebelah sepeda Shabila dengan sebuah kardus paket besar yang masih terbungkus rapi diatas motornya.

Shabila keluar sambil sibuk mengetik sesuatu pada ponselnya, tanpa melihat Erlangga yang telah berdiri dengan raut grogi dan kaku,

"Masih marah?" tanya Erlangga pada Shabila yang masih menunduk, Shabila otomatis mendongak, ia kaget.

Laki-laki yang beberapa minggu kebelakang selalu menggantungkan bungkusan di handle pintu gudang tiga hari ini menghilang, tiba-tiba muncul dengan sweater abu-abu dan celana jeans di hadapannya.

"Kok udah begini? Nggak kerja?" tanya Shabila tanpa mennjawab pertanyaan Erlangga,

"Tadi rapat bulanan," kata Erlangga sambil mengangkat kardus besar diatas motornya,

"Paketnya udah dateng, mau dibuka?" tanya Erlangga ragu,