https://open.spotify.com/track/4wCD0qOFNRu1Q6O3N6ycm4?si=A2qRQkg_RCyboICRRVHfZw

Shabila duduk di meja makan sambil memandang bahan-bahan sando yang akan ia buat dengan malas. Ia masih terbayang pertemuannya dengan Erlangga sabtu sore kemarin, ketika dirinya menjemput sang adik.

Kepalanya penuh dan berisik. Pening Shabila rasakan seharian ini. Menggabungkan poin-poin yang berceceran satu bulan terakhir. Berawal dari perkenalan dengan laki-laki di bumble, walau chat mereka tidak intens tapi ada malam-malam yang buat Shabila nyaman dan bebas untuk mengeluh tentang beratnya hidup ini.

Layaknya teka-teki dengan banyak kata ambigu dan berujung menguak sebuah jawaban, Shabila baru menyadari bahwa teman mengeluhnya di bumble, Erlang, adalah rekan kerjanya sendiri, seseorang yang beberapa hari terakhir hobi menggantungkan makanan dalam kresek beserta surat di kenop pintu gudang.

Dan baru kemarin sore ia ketahui, Erlang adalah guru taekwondo Adelia, adek bungsunya. Seseorang yang membelikan sang adik dua martabak manis, yang menjadi pelipur lara Shabila setelah berdebat dengan sang Ibu saat itu.

Shabila semakin malu, ia terlalu banyak berbicara sehingga Erlang mengetahui hampir setengah dari kisah hidupnya. Buat dirinya enggan membalas pesan instagram dari Erlangga, tekadnya telah bulat, Shabila akan menghindar dan bersembunyi semampunya.

Lagipula, bagaimana kalau Erlangga tau bahwa Abil yang jadi temannya berbincang lewat chat bumble itu hanya seorang penjaga gudang dan penjual sando pakai sepeda yang enggan memikirkan bagaimana ia harus bersolek, berbeda jauh dengan Erlang yang jelas dari segi fisik hampir mendekati sempurna, belum lagi jabatan dan pekerjaannya yang jelas nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Shabila.

Dirinya berdecak, mencoba melupakan hal yang seharian ini menjadi alasannya malas bergerak dari kasur.

“Mbak, aku bantu buat sando nya ya! Besok temen ku mau pesen lima tapi kecil aja..” kata Adelia yang memasuki dapur,

“Boleh, bantu potong pinggiran rotinya ya..” kata Shabila akhirnya bergerak, membuka plastik roti dan mengeluarkan beberapa, menyodorkan pada sang adik yang telah siap dengan pisau roti.