https://open.spotify.com/track/5y2ijHECwFYWqcAHKTZgzD?si=YhtAGJ5ATCO7NLy9yCys3Q

Seminggu sejak Rama menyinggung mengenai kapan Erlangga datang kerumah untuk meminang sang Kakak, di hari Sabtu sore setelah pulang kerja akhirnya Erlangga menyampaikan niatnya pada Shabila untuk menemui Ibu dari sang kekasih.

Sore itu hujan cukup deras, hanya beberapa pelanggan yang datang untuk menikmati matcha hangat atau sekedar berteduh. Erlangga masih menggunakan kemeja kerja warna hitam dan celana jeansnya, duduk di sebelah Shabila di balik meja kasir yang terus tertawa menonton podcast salah satu channel yang berisikan para keluarga artis.

“Nggak jelas banget bahasannya tapi kenapa kamu ketawa terus?” kata Erlangga pada Shabila yang dari tadi tak hentinya tertawa sambil memukul pundak atau paha Erlangga, padahal mereka sedang makan semangkuk salad yang Shabila buat dari sisa potongan buah sando, tapi yang sibuk mengunyah hanya Erlangga.

“Aduh.. Lucu banget mereka, nggak tau lagi aku..” kata Shabila ketika tawanya mereda, lalu menoleh pada Erlangga yang masih tak mengerti dimana letak lucunya, laki-lakinya itu menyodorkan satu sendok salad ke mulut Shabila, berniat menyuapi. Shabila mendekat, membuka mulutnya lalu mengunyah melon dan anggur yang Erlangga sodorkan.

“Kamu mah serius mulu hidupnya,” kata Shabila mengunyah lalu menjauh dari Erlangga lalu memilih tontonannya lagi,

“Sayang,” kata Erlangga memanggil Shabila, tapi sang pacar masih sibuk menggulir layar ponsel di hadapannya,

“Shabila,” ulang Erlangga lagi yang hanya dijawab dengan deheman oleh Shabil,

“Besok sore aku kerumah ya? Mau ngomong sama Ibu, minta restu..” kata Erlangga sambil menatap kedua mata Shabila, perempuan yang sibuk dengan ponsel itu segera menoleh pada laki-laki di sampingnya ketika kata ‘minta restu’ terucap.

Mulut Shabila masih penuh dengan salad tapi tetap berusaha untuk tidak tersedak, karena sejak tadi Erlangga menyuapkan sendok demi sendok secara bergantian untuk dirinya dan Shabila,