https://open.spotify.com/track/6TBJkXHPhu3EsMk1bshwuI?si=bHluAXF3SdWqTVHVwF_Nwg
Shabila telah berkeliling kota dengan bus selama beberapa jam. Turun dari halte satu ke halte yang lain, mampir ke tempat-tempat yang menurutnya menarik, mulai dari toko buku di dalam mall hingga pasar bekas mencari sesuatu yang kiranya ia butuhkan untuk tambahan dekorasi toko berujung tak jadi membeli karena tak bisa memilih diantara beberapa barang.
Harusnya ada Erlangga yang menemaninya,
Harusnya ada Erlangga yang membantu memilihkan sesuatu dengan segala teori dan sudut pandangnya.
Shabila lalu duduk diam di depan sebuah toko roti lawas yang telah lama tutup, tempat dirinya dan sang Ayah membelikan kue dan roti favorit Ibu. Shabila lama diam mengingat segala hal yang terjadi akhir-akhir ini.
Berawal dari Erlangga yang tak memceritakan yang sebenarnya mengenai hubungan laki-laki itu dengan perempuan pemesan lima puluh donat, lalu Shabila yang mendengar sekilas dari sudut pandang Ikhsan, mendiami Erlangga dan mendebat kekasihnya itu dari whatsapp, terakhir menghindari Erlangga selama kurang lebih tiga hari.
Total lima hari mereka saling mendiami. Bukan mereka sih, lebih tepatnya hanya Shabila. Karena Erlangga masih berusaha menghubungi Shabila di hari keempat dan mencoba menjelaskan walau terkesan masih menantang dan enggan di salahkan. Lalu mulai melunak di hari kelima, yakni hari ini.
Pacarnya itu mulai memberondong Shabila dengan pesan ajakan bertemu sejak pagi hingga sore menjelang malam ini. Shabila jelas masih enggan bertemu, memilih menutup toko dan pulang.
Tapi sampai dirumah bukannya tenang, Shabila malah gelisah sendiri, takut Erlangga datang dan memicu keributan, belum lagi ada Ibu yang sejak Shabila dan Erlangga bertengkar seakan sedang mengibarkan bendera kemenangan. Sindiran dan omelan dari Ibu mendominasi heningnya rumah siang itu,