Shabila dan Erlangga sedang mengantri bakso dekat rumah Erlangga ketika pesan dari nomer tidak dikenal masuk ke ponselnya. Hari itu jadwal toko sando tutup, setiap satu hari dalam seminggu harus ada satu hari untuk Shabila, Ikhsan dan Rama untuk libur berjualan.
Hari yang harusnya jadi jadwal Erlangga dan Shabila pacaran itu berubah jadi pertemuan yang menegangkan ketika Shabila menyerahkan ponselnya yang berisi pesan dari tetangga pada Erlangga.
Erlangga membaca dengan dada yang berdegup, perpaduan antara emosi dan khawatir, kenapa sih selalu ada orang-orang di dunia ini yang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain?
Tatap mata Erlangga jelas menunjukkan raut khawatir dan takut secara bersamaan saat menatap gerak gerik Shabila yang sibuk menata sendok dan garpu ketika dua mangkuk bakso dihidangkan.
"Aku harus apa? Datengin orangnya? Atau apa?" tanya Erlangga pada Shabila, enggan memakan bakso yang disodorkan Shabila.
"Kamu tau kan kalo itu rumah Mas Zaki sama Mbak Maya?" tanya Shabila sambil menyeruput kuah baksonya sebelum ditambahkan berbagai macam sambal dan saos.
"Aku bisa jelasin.." kata Erlangga menegakkan punggungnya, siap menghadapi Shabila yang meledak dan marah.
"Aku dengerin.." kata Shabila kini sibuk dengan berbagai sambal dan membuka plastik kerupuk.
"Waktu itu aku di jepang.." kata Erlangga dengan pelan, bingung menjelaskan darimana,